Tradisi yang Mempengaruhi Ragam-Bentuk Arsitektur Tradisional di Bali

Posted on

Sehingga sangat wajar apabila usaha – usaha dibidang pariwisata memperhatikan tata cara masyarakat tradisional memperlakukan alamnya karena tata cara kehidupan seperti itulah sesungguhnya dicari oleh wisatawan. Arsitektur tradisional Bali sebagai daya tarik yang dicari  segi – segi perlindungan kepentingan kejiwaannya yang umumnya menampilkan bentuk – bentuk arsitektur yang hanya sebagai perlindungan untuk kepentingan fisik manusia semata – mata bukanlah merupakan daya tarik bagi wisata karena arsitektur serupa itu ada setiap bagian bumi yang dihuni manusia.

Menurut Prof. Ir. Johan Silas permukiman merupakan teritorial habitat  dimana penduduknya dapat melaksanakan kegiatan biologis, sosial, ekonomi, politik dan dapat menjamin kelangsungan lingkungan yang seimbang, dan serasi.

Dalam perkembangannya masyarakat mulai hidup menetap. Hal itu  diprakarsai oleh kaum ibu. Memilih tempat yang memungkinkan untuk hidup menetap, tempat yang subur, bermata air, aman. Dapat terlihat pola dalam permukimannya, pola-pola yang tersusun berbentuk unit-unit hunian yang membentuk satu ruang bersama.
Mempunyai ukuran yang cukup besar, seperti desa dengan penduduk 1000 s/d 2000 jiwa, desa adat di Bali rata-rata mempunyai jumlah penduduk 1000 KK atau 5000 jiwa. (Prof. Antonic). Sarana dan prasarana yang tersedia telah terpenuhi atau lengkap. Adanya spesialisasi kerja
Contohnya : Cheyenne di USA, Batak karo, Rutemg Pue, Sumba, Todo, Wae Rebo, Tenganan, Bugbug, Kendran, Penglipuran.

Tradisi adalah usaha untuk mempertahankan pengulangan bentuk adat kebiasaan setempat dari generasi ke generasi berikutnya yang telah disepakati bersama.
Aturan yang telah mendasari dalam bentuk-bentuk arsitektur tradisional di Bali merupakan kebenaran jalan pikiran yang telah disepakati bersama dan merupakan dasar-dasar arsitektur tradisional Bali yang dipengaruhi pula oleh faktor-faktor wilayah, masa dan keadaan, antara lain:

1.  Balance Cosmologi
Dari segi fisiknya, manusia dibedakan menjadi 3 bagian yaitu kepala, badan, dan kaki yang nilainya juga selaras dengan alam dengan mem bedakan antara nilai pegunungan, dataran permukiman, dan pantai. Arsitektur tradisional juga dibagi menjadi tiga bagian dengan perumpamaan atap sebagai kepala, tembok sebagai badan, dan pondasi sebagai kaki. Keseimbangan tata nilai antara manusia dan alamnya diseimbangkan oleh unsur-unsur pembentuknya yang disebut lima unsur pembentuk manusia dengan alam. Arsitektue tradisional Bali pada prinsipnya menjaga keseimbangan kelima unsur tersebut, antar kebutuhan fisik manusia dengan keadaan unsure tersebut di alam.

2.  Norma-norma agama dan kepercayaan
Masyarakat tradisional pada umumnya percaya bahwa ada kekuatan-kekuatan tertentu selain dirinya sendiri yang dapat  mempengaruhi dirinya. Mereka percaya segala sesuatu yang ada di bumi ada pemiliknya. Demikian pula halnya dalam pemakaian material untuk suatu bangunan arsitektur tradisional. Pengambilan material dari alam, pengerjaan material menjadi bentuk baru sebagai elemen arsitektur, pemasangan konstruksi dan pemakainya. Keseluruhan proses tersebut di jalani dengan tahapa-tahapan yang se suai dengan ajaran agamanya.

Dalam norma-norma agama ada akibat tertentu bagi para pelanggarnya. Karenanya bagi mereka yang menganut suatu agama, tentunya akan memperhatikan norma-norma agama dan adat setempat, dalam konsepsi cipta dan karyanya. Norma-norma agama bukanlah aturan tertulis sepenuhnya, untuk menyadarinya diperlukan kepekaan perasaan. Perlu di sadari bersama, bahwa keunggulan seni budaya akan terbina bila norma-norma agama dilindungi, ditaaati, dan dibina bersama. Kekaburan tata nilai akan terjadi bila pelanggaran norma-norma kepercayaan mendapatkan kebebasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *